28 Agustus 2007

Bergembira di Pantai Kilongan


Setelah Bekerja Seharian...!!!

Capek, setelah bekerja seharian penuh. Rasanya kepala ini penuh sesak dengan berbagai tugas-tugas. Namun, kami menyempatkan waktu untuk datang di sebuah pantai di Desa Kilongan, Luwuk. ya....hanya sekedar melepas lelah dan melepas tawa sepuas-puasnya

19 Agustus 2007

Menelisik Kinerja Anggota Legislatif (3/habis)

Preseden Buruk Bagi Perjuangan Gender

Isu kesetaraan gender mewarnai wacana disetiap perhelatan politik. Baik Pemilu, Pilkada maupun suksesi jabatan sekecil apapun. Dalam pemilihan anggota legislatif, isu itu juga dijual. Namun dalam pelaksanaan peran, kesetaraan gender hanya berakhir dalam kompromi

Laporan : Gafar Tokalang

Meskipun kesetaraan gender selalu didengung dengungkan, namun pada kenyataanya para legislator perempuan kita tidak mampu menampilkan eksistensi gender dalam sikapnya. Kondisi ini akan menjadi preseden buruk ditengah kencangnya arus perjuangan kesetaraan gender.
Dari enam orang Aleg perempuan di parlemen Kabupaten Banggai, sebagian besarnya tidak mencerminkan eksistensi kesetaraan jender. Setidaknya, pengambilan peran yang besar dan ikut mempengaruhi pengambilan kebijakan di parlemen harus bisa dilakukan oleh setiap legislator perempuan. Dalam sidang-sidang di DPRD Banggai, nyaris tidak ada gagasan cemerlang dari legislator perempuan, apalagi bila sampai mempengaruhi pengambilan kebijakan.
Dalam konteks kesetaraan, mestinya perempuan juga harus memiliki andil dalam perumusan kebijakan apapun. Namun bila kualitas legislatif gender tidak bisa menyahuti derasnya perjuangan kesetaraan, ini tentu akan menjadi preseden buruk bagi perjuangan itu. Bagaimana tidak, jangankan kesetaraan pengambilan kebijakan, sederet masalah perempuan pun jarang tersentuh. Tak pelak, keberadaan legislator perempuan di DPRD Bangai menjadi bahan perbincangan dari diskusi kediskusi.
Tidak diketauhi secara pasti, apakah sebagian anggota DPRD Banggai itu terkesan acuh tak acuh karena SDM yang kurang mampu, atau memang sengaja menghianati rakyat. Yang jelas, para anggota DPRD termasuk kalangan perempuan tentunya, selalu mengikuti berbagai pelatihan dan pembekalan tugas-tugas anggota DPRD. Bila melihat masa jabatan anggota DPRD Banggai periode 2004-2009, setidaknya masing-masing anggota legislatif hingga saat ini pernah mengikuti kegiatan yang sifatnya peningkatan SDM diatas 10 kali, baik yang dikuti ditingkat pusat, provinsi atau kegiatan yang dilakukan di daerah ini.
Fenomena tersebut membuat publik merasa tidak setuju bila para legislator harus menerima tunjangan yang begitu besar, atau tunjangan komunikasi intesif seperti yang hanyat saat ini. Pasalnya, kinerja yang dilakukan tidak sebanding dengan pemberian tunjangan. [###]

sofyan ishak



dia memang sedikit nakal, tapi bagiku,
itu adalah bagian dari identitasnya...????

Menelisik Kinerja Anggota Legislatif (2)

Kurang Berpartisipasi Dalam Persidangan

Anggota Legislatif (Aleg) adalah wakil rakyat. Untuk menjadi Aleg, setidaknya yang bersangkutan harus mengantongi ribuan suara. Dengan begitu, dalam satu Aleg, bergantung ribuan nasib rakyat yang diwakilinya. Artinya, tidak semestinya Aleg harus diam dalam setiap perumusan kebijakan di parlemen

Laporan : Gafar Tokalang

PADA saat pembahasan rumusan kebijakan dalam berbagai persidangan di DPRD Kabupaten Banggai, banyak para anggota DPRD yang tidak aktif dalam mencermati dan memberikan ide maupun gagasannya, terkait dengan masalah yang sedang dibahas. Bila diamati, ada kesan acuh tak acuh yang dilakukan para Aleg disaat mengikuti bersidangan.
Memang tidak semuanya melakukan hal itu, melainkan hanya beberapa orang saja. Namun bila dikalkulasi dari 27 anggota legislative (Non Pimdekab) yang ada, maka sebagian besarnya tidak berpartisipasi aktif dalam merumuskan berbagai kebijakan itu. Baik pada saat pembahasan Peraturan Daerah, Pembahasan APBD maupun regulasi kebijakan di daerah lainnya.
Sebagian diantaranya memilih diam. Memang kerap terjadi perdebatan. Namun hal itu hanya terjadi dari aleg yang satu ke aleg lainnya dan cenderung itu-itu saja. Belum lagi sikap para pimpinan persidangan yang suka terburu-buru dalam mengetuk palu sidang persetujuan. Kondisi itu sering membuat Aleg lainnya menggerutu. Tak jarang palu sidang yang menandakan persetujuan diketuk meskipun para Aleg masih membisu, apakah setuju atau tidak. Akibatnya, rumusan kebijakan yang krusialpun, lahir dengan mulus tanpa melalui penggodokan yang maksimal.
Contoh terbaru adalah pembahasan APBD untuk tahun anggaran 2007. Anggaran senilai Rp517 miliar lebih itu hanya dilahirkan dalam waktu tak lebih dari tiga hari dua malam. Akibatnya, banyak aktivis di daerah ini yang menyebut APBD 2007 sebagai APBD instan.
Ada beberapa alasan yang dikemukakan para Aleg terkait dengan kesan 'tidak cerdas' yang melekat pada status mereka. Ada yang mengaku memilih sikap diam karena kecewa dengan sikap rekan-rekannya sesama Aleg yang tidak memahami alur pikirannya. Untuk menghindari perdebatan sesama Aleg, maka yang bersangkutan memilih untuk diam meskipun dalam hatinya tidak setuju. Alasan lain yang dikemukakan adalah sikap memilih diam karena hawatir terjadi dampak pada diri mereka, seperti dicoret dari status sebagai wakil rakyat. Kelompok ini memiliki kesimpulan, bila terlalu keras dan tanpa kompromi hal tersebut akan berakibat fatal bagi dirinya.
Adapula yang tidak sependapat kalau harus ada istilah Aleg yang tidak cerdas. Bagi mereka, sikap diam bukan berarti tidak cerdas atau tidak pekah terhadap persoalan kerakyatan. Menurut alasan ini, Aleg yang memilih diam terjadi karena merasa ide dan gagasanya sudah terwakili oleh Aleg lainnya. Masalah sikap diam dinilai hanya masalah tehnis saja. Untuk alasan ini, tampaknya agak sulit dimengerti. Pasalnya, mustahil dalam dua kepala yang berbeda, terdapat ide dan gagasan yang sama untuk semua jenis permasalahan. Artinya, sikap diam menjadi sulit dimengerti bila hal tersebut terjadi secara terus menerus dari tahun ke tahun.
Bila hakikat anggota legislatif adalah perwakilan rakyat, maka setidaknya setiap Aleg harus bertanggung jawab terhadap ribuan suara yang mengantarkannya hingga dikursi parlemen. Atau dengan kata lain, setiap perumusan kebijakan yang menyertakan institusi tersebut, keberpihakan terhadap rakyat harus mewarnai ide gagasan maupun sikapm politik masing-masing anggota legislatif. Tak perlu ada rasa hawatir atau takut. Sebab, dalam konteks ini, mata dan hati ribuan rakyat yang akan menilai segalanya. [bersambung]

17 Agustus 2007

Menelisik Kinerja Anggota Legislatif (1)

Hadir Bila Ada Agenda Persidangan

Sejumlah kalangan mulai menyoroti kinerja para Anggota DPRD Banggai. Berbagai kesimpulan lahir atas penilaian itu. Koran ini hendak menuturkan beberapa fenoma yang terkait dengan knerja para legislator khususnya di Kabupaten Banggai.

Laporan : Gafar Tokalang ; Luwuk

Isu paling santer terkait dengan para anggota DPRD belakangan ini adalah masalah Tunjangan Komunikasi Intensif. Kontroversi lahirnya PP No 37 / 2006 yang mencantumkan pemberian tunjangan komunikasi intensif tersebut juga menjadi bahan perbincangan di daerah ini. Namun arah pembahasannya lebih fokus pada kualitas kinerja para anggota DPRD. Pemberian tunjangan komunikasi intensif dinilai boleh saja karena aturannya terlanjur lahir. Namun hal itu hendaknya dibarengi dengan kualitas kinerja para wakil rakyat.
Memang ada beberapa fenomena lain yang kerap dilakukan oleh para legislator yang berkantor di Teluk Lalong, Luwuk, Kabupaten Banggai. Salah satunya adalah para anggota legislatif (Aleg) sangat sulit ditemui di kantor DPRD bila pada hari itu tidak ada agenda persidangan. Hanya ada beberapa Aleg saja yang suka bertahan di kantor meskipun belum ada agenda sidang.
Buktinya, beberapa kali aksi demonstrasi maupun kedatangan warga yang ingin menyuarakan aspirasinya di DPRD tidak langsung menemui para anggota DPRD. Para anggota DPRD Banggai baru berdatangan menemui para demonstran atau warga yang datang ke kantor setelah dikabari oleh para pegawai staf atau saling menghubungi melaui handpone. Hanya ada beberapa kali saja kedatangan warga yang bertepatan dengan kehadiran para anggota dewan. Selain itu, para anggota legislatif tersebut lebih suka kembali ke rumah setelah mengikuti persidangan meskipun waktu masih menunjukan jam kantor.
Masalah kehadiran memang sangat krusial di lembaga itu. Nyaris tidak ada anggota DPRD yang hadir setiap hari dan bertahan sesuai jam kantor. Ada desakan dari berbagai pihak terhadap media massa untuk membuat daftar anggota legislative yang jarang masuk kantor atau kerap bolos. Namun hal itu belum dilakukan karena tujuan yang hendak diutarakan bukan mengenai individu sang legislator, melainkan fenomena yang kerap terjadi di parlemen.
Ketidak hadiran di kantor, mungkin bisa dipahami bila ketidak hadiran itu dilakukan karena melakukan kunjungan pada constituent masing-masing untuk menggali aspirasi. Namun kenyataanya lain. Seperti yang ada di Kecamatan Masama. Tokoh-tokoh masyarakat setempat mengaku tidak pernah melihat para angota legislatif pasca kampanye tahun 2004, yang ketika itu status mereka masih calon. Namun ada juga beberapa tokoh masyarakat yang mengaku pernah bertemu para anggota legislatif pada saat reses DPRD, namun katanya hal itu sangat arang terjadi. Pengakuan yang sama juga disampaikan tokoh tokoh masyarakat di Kecamatan Bunta, Boalemo dan Batui. [bersambung]

16 Agustus 2007

Tinggal Kenangan…!

KALA fajar menyingsing, aku belum juga bangkit dari peraduan. Kamar kecil beralas tirai mambu membuat punggungku yang kurus tipis membekas. Namun, setiap pagi aku bisa menikmati kesejukan alam. Nafasku masih berjalan seperti biasa. Tuhan memang adil, meski bekerja seharin penuh dan terasa lelah, aku masih diberikan kesehatan sehingga sanggup melangkah menemai sang surya hingga terbenam. Begitu setiap hari.

Disebuah ladang, dekat kaki gunung Tompotika. Aku dan beberapa teman-teman di kampung sedang asyik menyusuri anak sungai. Disini banyak ragam kekayaan air. Ada Udang dan berbagai jenis ikan sungai lainnya. Rerumputan dan semak belukar hidup liar di sana-sini. Tali-tali hutan melilit keras di batang pohon. Aku juga melihat tanaman padi milik warga ditiup angin. Daunnya bergoyang lambat, seperti lembayan tangan seorang gadis cantik yang akan berpisah dengan kekasihnya. Indah sekali…

Saat ini, kesejukan alam dengan panorama ragam tumbuhan air itu, tentu tidak lagi seindah dulu. Hutan tompotika yang dahulu dikenal dengan rimba dan belukar, kini tidak lebih dari hamparan tanah yang tandus bekas perkebunan warga dan bekas-bekas bulldozer menghantam bongkahan batu. Kini, rimba tompotika tinggal menjadi kenangan yang dilantunkan dalam dongen-dongen pengatar tidur usai acara hataman Qur’an di kampung.…

15 Agustus 2007

Pekan Depan Arena MTQ Mulai Ditata

MASAMA- Meski pelaksanaan kegiatah MTQ masih terbilang jauh, namun saat ini Pemerintah Kecamatan Masama telah memastikan, mulai pekan depan arena pelaksanaan kegiatan MTQ tingkat Kabupaten Banggai yang akan dipusatkan di lapangan sepak bola Desa Taugi Kecamatan Masama akan mulai ditata.
Camat Masama Hasrin Karim, SH kepada Luwuk Post, Selasa (14/08) menjelaskan, pihaknya sedang mempersiapkan penataan arena khususnya dalam bentuk pembangunan stand dan kafilah-kafilah agar bisa mulai dikerjakan sejak saat ini. Pasalnya, ibadah Puasa pada bulan ramdhan juga tidak lama lagi akan dilaksanakan. Menurut Camat, diharapkan pada saat pelaksanaan Puasa, pelaksanaan pembangunan panggung harus sudah selesai dikerjakan sehingga tidak menguras tenaga masyarakat yang sedang beribadah. "Kalau sudah dibangun sebelum puasa, maka setelah puasa, kita tinggal mempersiapkan tehnisnya. Karena fisiknya berlahan-lahan kita mulai bangun mulai saat ini," tutur Hasrin, kemarin.
Hasrin kembali menegaskan, pihaknya tidak ingin membeni masyarakat dengan pelaksanaan kegiatan MTQ tersebut. Saat ini ia mengakui ada upaya untuk menggalang dana dari desa-desa di kecamatan melalui kepala desa. Namun, katanya, pemerintah kecamatan tidak memaksakan kepada masyarakat. "Saya sudah sampaikan kalau ada desa yang keberatan, tidak usah saja," tuturnya datar. (LP-03)


Jelang MTQ

Galang Potensi Dari Luar

MASAMA - Meskipun pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) tingkat Kabupaten Banggai masih terhitung cukup jauh, namun pemerintah Kecamatan Masama mulai mempersiapkan diri. Buktinya, Selasa (14/08) kemarin, Camat Masama Hasrin Karim SH melakukan rapat koordinasi bersama LPTQ Kecamatan Masama untuk mepersiapkan agenda akbar itu.
Camat Masama Hasrin Karim, SH yang ditemui usai pelaksanaan rapat koordinasi di kantornya, Selasa (14/08) kemarin menjelaskan, dalam rapat tersebut berkembang upaya untuk menjadi peserta terbaik dalam agenda MTQ kabupaten November mendatang. Diantaranya kata Hasrin adalah Masama akan mengulpulkan semua potensi local yang tersebal diluar daerah. "Masama akan melakukan identivikasi anak-anak sekolah khuusnya di pondok pesantren yang ada di luar daerah untuk didatangkan memperkuat tim pada saat kegiatan itu nanti," tutur Hasrin.
Menurutnya, banyak anak-anak Masama yang sedang melakukan study di luar daerah dan memiliki kempuan handal pada kegiatan-kegiatan seperti MTQ, yang perlu untuk diakomodir. Selain itu, pihak LPTQ Masama juga saat ini sedang melakukan penggodokan terhadap sejumlah calon peserta yang akan ditampikan dalam MTQ tingkat kabupaten mendatang. "Yang ada disini (masama-red) saat ini sedang di godok untuk kemudian dilakukan penyariangan peserta yang akan ikut," pungkasnya.(LP-03)


Camat Masama Mengaku Sulit Tolak Tambang Nikel

MASAMA- Meskipun aksi dan protes keras disampaikan sejumlah masyarakat Desa Bantayan Kecamatan Luwuk Timur terhadap perusahaan pertambangan Nikel di wilayah Kecamatan Masama sebagaimana yang dilakukan beberapa waktu lalu, namun tidak membuat Camat Masama bergeming. Pasalnya, kehadiran perusahaan tersebut dinilai telah memenuhi ketentuan yang diatur dalam usaha pertambangan.
"Kita dikecamatan tidak bisa asal menolak. Selain kewenangan itu ada di daerah, juga kedatangan perusahaan itu sudah dengan berbagai dokumen pendukung lengkap," tutur Camat Masama Hasrin Karim kepada Luwuk Post, Selasa (14/08) kemarin.
Hasrin mengaku, pihaknya tidak memiliki kewenangan untuk menolak kehadiran PT. Anugrah Tompira Nikel di areal seluas 199 hektar di Kecamatan Masama. Ia juga mengaku sudah pernah membahas masalah tersebut dengan sejumlah warga Desa Bantayan bersama pemerintah daerah. "Dihadapan asisten I saat mempertemukan warga dan pemerintah kecamatan beberapa waktu lalu, juga saya sudah jelaskan kepada masyarakat bahwa perusahaan itu tidak illegal dan juga kecamatan tidak punya kewenangan menolak apalagi mencabut izin," tuturnya. (LP-03)

POLITIK KELELAWAR

CERPEN : Gafat Tokalang

Suatu saat, di sebuah desa di kaki gunung Tompotika, seorang nenek tua menceriterakan dongeng sebagai pengantar tidur untuk anak cucunya.

Diceritakan, konon, ada sebuah kerajaan binatang yang menguasai rimba gunung Tompotika. Kerajaan itu menggelar lomba untuk memperebutkan ½ hutan di Gunung itu.

Perlombaan dilakukan dengan cara berebutan mencapai wilayah timur gunung, dimulai dari arah barat. Yang lebih dulu mencapai tepi timur gunung, akan keluar menjadi sang pemenang. Hadianya, sang pemenang berhak menjadi penguasa di hutan itu, yang akan diserahkan langsung oleh sang raja hutan.

Lomba tersebut digelar antara binatang bersayap dan binatang tak bersayap, yang ada di hutan gunung Tompotika.

Sejak sebulan sebelum lomba di mulai, rencana itu sudah dipublikasikan pihak kerajaan.

Semua jenis binatang di hutan itu, langsung membentuk kelompok berdasarkan jenisnya masing-masing.

Binatang-binatang tersebut langsung menggelar latihan bersama. Binatang yang bersayap mulai memperbaiki sayapnya. Sedangkan binatang yang tidak bersayap, mulai mengelus kaki dan tangannya, agar bisa lari secepat mungkin.

Setelah sebulan kabar lomba itu membahana diseantero jagad rimba Tompotika, akhirnya, waktu yang dinanti-natikan itu tiba.

Sore itu, para peserta lomba berjejer lurus. Binatang bersayap mengambil posisi di udara. Sedangkan binatang yang tidak bersayap mengambil posisi di darat. Mereka mengikuti bentangan awan hitam, yang digaris lurus oleh penitia sebagai garis start.

Berbeda dengan seekor kelelawar. Ia hanya bergantungan di pucuk janur kelapa, yang berada di tepi lokasi perlombaan. Ia tidak mengambil posisi di garis start, sebagaimana posisi para peserta kebanyakan.

Ia kelihatan santai-santi saja. Sebab, dibenaknya sudah ada strategi yang akan dimainkannya dalam perjalanan lomba nanti.

Beberapa saat kemudian, gong star berbunyi. Dan lomba-pun dimulai.

Masing-masing peserta bergegas meluncur. Yang bersayap langsung terbang cepat, sedangkan yang tidak bersayap langsung meloncat jauh ke depan.

Sayangnya. Saat start itu, binatang tak bersayap tampaknya kalah dalam memanfaatkan waktu start yang baik.
Akibatnya, binatang bersayap melaju cepat dan berada di bagian depan.

Melihat kondisi itu, sang kelelawar langsung meluncur cepat dan bergabung dengan binatang bersayap.

Kehadiran kelelawar di antara binatang bersayap itu, spontan mengundang pertanyaan binatang lainnya.

“Kau dari mana,
“Setahu saya, kau tidak ada waktu di garis start?” Tanya seekor burung.

Sang kelelawar mengerutkan kening. Akal bulusnya mulai jalan. Sebab, kelelawar tidak mau ketahuan.

“Ah, ada kok.
“Kalian saja yang tidak melihat aku.
“Lihat saja keadaanku.
“Aku punya sayap,
“Sama dengan kalian,” kata sang kelelawar menjelaskan.

Sang burung tampak kebingungan.
Sambil mengamati jenis sayap sang kelelawar, akhirnya burung itu mengakui kehadiran sang kelelawar didalam kelompoknya.

Penjelasan sang kelelawar itu, membuat binatang bersayap percaya, kalau ia adalah rekan sesamanya dalam tim binatang bersayap.

Sebab, meskipun jenis sayapnya lain dari jenis binatang bersayap yang mayoritas burung itu, namun kelelawar berhasil memeberikan argumentasi yang kuat.

Waktu terus berjalan. Masing-masing pihak terus berusaha melaju ke depan, mencapai garis finish.

Tiba-tiba, binatang tidak bersayap yang berderetan di darat itu, terlihat lebih maju. Kali ini, mereka meloncat-loncat jauh ke depan meninggalkan binatang bersayap.

Tanpa menyia-nyiakan waktu, sang kelelawar langsung turun ke darat.

Ia meninggalkan binatang bersayap dan ikut bergabung bersama binatang tidak bersayap, yang saat itu sudah melaju kedepan.

Kehadiran kelelawar di antara binatang tidak bersayap itu, spontan mengundang pertanyaan dari binatang tidak bersayap.

“Lho,
“Kau dari mana,
“Kok tadi, waktu start, kamu tidak ada,?”
tanya seekor kucing.

Dasar kelelawar, ia kembali menjalankan akal bulusnya.

“Ah, ada kok.
“Kalian saja yang tidak melihat.
“Lihat saja keadaanku ini.
“Mulutku sama dengan dia,”
Tuturnya, sambil menunjuk ke arah seekor tikus.
“Aku juga punya telinga, tangan dan kaki,
“Sama seperti kalian semua,”
kata si kelelawar lagi.

Lagi-lagi, binatang tak bersayap ini juga terkecoh. Penjelasan sang kelelawar itu, membuat binatang tak bersayap percaya, bila ia adalah rekannya dalam tim binatang tak bersayap.

Dalam perjalanan lomba itu, sang kelelawar sudah memikirkan kemenangan. Yakni dirinya akan dapat menguasai separuh hutan di Gunug Tompotika.

Ia terus meloncat-loncat, mengikuti gerakan para binatang tak bersayap.

Dan, tiba-tiba ia melihat binatang bersayap yang terbang diatasnya terus melaju kedepan. Ia melihat binatan bersayap sudah berada di depan dan meninggalkan binatang tak bersayap.

Sang kelelawar langsung bergegas terbang naik, dan bergabung dengan binatang bersayap.

Sayang, kehadiran kelelawar kali ini tidak mendapat sambutan baik.

“Kau bukan teman kami.
“Tadi kau meningalkan kami, dan bergabung dengan binatang tak bersayap.
“Kau penghianat, tidak konsisten, dan hanya ingin menang. Celoteh sang burung.

“keluar kau dari barisan ini,”
Tandas seekor burung lagi, sambil mengusir sang ke kelelawar keluar dari barisan binatang bersayap.

Sang ke lelawar-pun tak bisa berbuat banyak. Ia harus menerima kenyataan itu. Ia harus meninggalkan barisan itu, karena tidak konsisten dengan sikapnya.


Diusir dari kumpulan binatang bersayap, sang kelelawar lalu bergegas turun bersama dengan binatang tak bersayap yang berada di darat. Maksudnya, ia ingin bergabung lagi dengan para binatang tak bersayap, dan mengusahakan kemenangan.

Sayangnya, binatang tidak bersayap juga tak menerimanya lai.

“Kau munafik. Tidak punya pendirian,
“Ucapanmu tak bisa dipercaya,
“Keluar kau dari barisan kami,”
Tandas seekor kucing, salah satu binatang tak bersayap.

Akhirnya, sang kelelawar tidak mendapatkan kepercayaan lagi. Tidak ada lagi pihak yang mau memerimanya. Ia diusir dari kelompok-kelompok binatang. Ia sangat malu, karena setelah perombaan itu, sikap kelelawar menjadi cemo’ohan sesama binatang, di gunung Tompotika.


Konon, itulah alasan kenapa kelelawar tidak berani keluar pada siang hari. Ia tidak memiliki teman, karena sudah dianggap penghianat.

Akhirnya, kelelawar tinggal dan bersembunyi di lubang-lubang batu sendirian, di pucuk dedaunan mudah tanoa ditemani binatang lain.

Kelelawar hanya berani keluar pada malam hari saja. Hal itu dilakukan, agar tidak ketahuan bintang lain.

Memang, hukuman itu pantas diberikan kepada sang kelelawar.
Politik yang dilakukan kelelawar, untuk menggapai kememangan sangat buruk dan jahat.

Semoga saja, para politisi kita tidak ada yang menggunakan “politik kelelawar” untuk mencapai tujuan.

Sebab, dalam kenyataan dunia politik di negeri ini, banyak sekali perilaku yang sama seperti sikap sang kelelawar. Tak punya pendirian, memuka dua, dan egois.

Mereka hanya mau berteman bila ada kepentingan dan menguntungkan dirinya. Namu pada sisi lain, mereka tidak segan-segan meninggalkan temannya, atau bahkan mereka tega menghancurkan dan menghabisi temannya sendiri, yang penting cara itu bisa meloloskan kepentingan atau keuntungan yang diinginkan.

Dan itulah yang disebut politik kelelawar.

Salam Dariku

Tinggal Kenangan…!

KALA fajar menyingsing, aku belum juga bangkit dari peraduan. Kamar kecil beralas tirai mambu membuat punggungku yang kurus tipis membekas. Namun, setiap pagi aku bisa menikmati kesejukan alam. Nafasku masih berjalan seperti biasa. Tuhan memang adil, meski bekerja seharin penuh dan terasa lelah, aku masih diberikan kesehatan sehingga sanggup melangkah menemai sang surya hingga terbenam. Begitu setiap hari.

Disebuah ladang, dekat kaki gunung Tompotika. Aku dan beberapa teman-teman di kampung sedang asyik menyusuri anak sungai. Disini banyak ragam kekayaan air. Ada Udang dan berbagai jenis ikan sungai lainnya. Rerumputan dan semak belukar hidup liar di sana-sini. Tali-tali hutan melilit keras di batang pohon. Aku juga melihat tanaman padi milik warga ditiup angin. Daunnya bergoyang lambat, seperti lembayan tangan seorang gadis cantik yang akan berpisah dengan kekasihnya. Indah sekali…

Saat ini, kesejukan alam dengan panorama ragam tumbuhan air itu, tentu tidak lagi seindah dulu. Hutan tompotika yang dahulu dikenal dengan rimba dan belukar, kini tidak lebih dari hamparan tanah yang tandus bekas perkebunan warga dan bekas-bekas bulldozer menghantam bongkahan batu. Kini, rimba tompotika tinggal menjadi kenangan yang dilantunkan dalam dongen-dongen pengatar tidur usai acara hataman Qur’an di kampung.…

RAMADHAN

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."[Al-Baqarah:183]

"Selamat Menunaikan Ibadah Puasa, Semoga amal ibadah kita diterima disisi Allah SWT. Amiiieenn