CERPEN : Gafat Tokalang
Suatu saat, di sebuah desa di kaki gunung Tompotika, seorang nenek tua menceriterakan dongeng sebagai pengantar tidur untuk anak cucunya.
Diceritakan, konon, ada sebuah kerajaan binatang yang menguasai rimba gunung Tompotika. Kerajaan itu menggelar lomba untuk memperebutkan ½ hutan di Gunung itu.
Perlombaan dilakukan dengan cara berebutan mencapai wilayah timur gunung, dimulai dari arah barat. Yang lebih dulu mencapai tepi timur gunung, akan keluar menjadi sang pemenang. Hadianya, sang pemenang berhak menjadi penguasa di hutan itu, yang akan diserahkan langsung oleh sang raja hutan.
Lomba tersebut digelar antara binatang bersayap dan binatang tak bersayap, yang ada di hutan gunung Tompotika.
Sejak sebulan sebelum lomba di mulai, rencana itu sudah dipublikasikan pihak kerajaan.
Semua jenis binatang di hutan itu, langsung membentuk kelompok berdasarkan jenisnya masing-masing.
Binatang-binatang tersebut langsung menggelar latihan bersama. Binatang yang bersayap mulai memperbaiki sayapnya. Sedangkan binatang yang tidak bersayap, mulai mengelus kaki dan tangannya, agar bisa lari secepat mungkin.
Setelah sebulan kabar lomba itu membahana diseantero jagad rimba Tompotika, akhirnya, waktu yang dinanti-natikan itu tiba.
Sore itu, para peserta lomba berjejer lurus. Binatang bersayap mengambil posisi di udara. Sedangkan binatang yang tidak bersayap mengambil posisi di darat. Mereka mengikuti bentangan awan hitam, yang digaris lurus oleh penitia sebagai garis start.
Berbeda dengan seekor kelelawar. Ia hanya bergantungan di pucuk janur kelapa, yang berada di tepi lokasi perlombaan. Ia tidak mengambil posisi di garis start, sebagaimana posisi para peserta kebanyakan.
Ia kelihatan santai-santi saja. Sebab, dibenaknya sudah ada strategi yang akan dimainkannya dalam perjalanan lomba nanti.
Beberapa saat kemudian, gong star berbunyi. Dan lomba-pun dimulai.
Masing-masing peserta bergegas meluncur. Yang bersayap langsung terbang cepat, sedangkan yang tidak bersayap langsung meloncat jauh ke depan.
Sayangnya. Saat start itu, binatang tak bersayap tampaknya kalah dalam memanfaatkan waktu start yang baik.
Akibatnya, binatang bersayap melaju cepat dan berada di bagian depan.
Melihat kondisi itu, sang kelelawar langsung meluncur cepat dan bergabung dengan binatang bersayap.
Kehadiran kelelawar di antara binatang bersayap itu, spontan mengundang pertanyaan binatang lainnya.
“Kau dari mana,
“Setahu saya, kau tidak ada waktu di garis start?” Tanya seekor burung.
Sang kelelawar mengerutkan kening. Akal bulusnya mulai jalan. Sebab, kelelawar tidak mau ketahuan.
“Ah, ada kok.
“Kalian saja yang tidak melihat aku.
“Lihat saja keadaanku.
“Aku punya sayap,
“Sama dengan kalian,” kata sang kelelawar menjelaskan.
Sang burung tampak kebingungan.
Sambil mengamati jenis sayap sang kelelawar, akhirnya burung itu mengakui kehadiran sang kelelawar didalam kelompoknya.
Penjelasan sang kelelawar itu, membuat binatang bersayap percaya, kalau ia adalah rekan sesamanya dalam tim binatang bersayap.
Sebab, meskipun jenis sayapnya lain dari jenis binatang bersayap yang mayoritas burung itu, namun kelelawar berhasil memeberikan argumentasi yang kuat.
Waktu terus berjalan. Masing-masing pihak terus berusaha melaju ke depan, mencapai garis finish.
Tiba-tiba, binatang tidak bersayap yang berderetan di darat itu, terlihat lebih maju. Kali ini, mereka meloncat-loncat jauh ke depan meninggalkan binatang bersayap.
Tanpa menyia-nyiakan waktu, sang kelelawar langsung turun ke darat.
Ia meninggalkan binatang bersayap dan ikut bergabung bersama binatang tidak bersayap, yang saat itu sudah melaju kedepan.
Kehadiran kelelawar di antara binatang tidak bersayap itu, spontan mengundang pertanyaan dari binatang tidak bersayap.
“Lho,
“Kau dari mana,
“Kok tadi, waktu start, kamu tidak ada,?”
tanya seekor kucing.
Dasar kelelawar, ia kembali menjalankan akal bulusnya.
“Ah, ada kok.
“Kalian saja yang tidak melihat.
“Lihat saja keadaanku ini.
“Mulutku sama dengan dia,”
Tuturnya, sambil menunjuk ke arah seekor tikus.
“Aku juga punya telinga, tangan dan kaki,
“Sama seperti kalian semua,”
kata si kelelawar lagi.
Lagi-lagi, binatang tak bersayap ini juga terkecoh. Penjelasan sang kelelawar itu, membuat binatang tak bersayap percaya, bila ia adalah rekannya dalam tim binatang tak bersayap.
Dalam perjalanan lomba itu, sang kelelawar sudah memikirkan kemenangan. Yakni dirinya akan dapat menguasai separuh hutan di Gunug Tompotika.
Ia terus meloncat-loncat, mengikuti gerakan para binatang tak bersayap.
Dan, tiba-tiba ia melihat binatang bersayap yang terbang diatasnya terus melaju kedepan. Ia melihat binatan bersayap sudah berada di depan dan meninggalkan binatang tak bersayap.
Sang kelelawar langsung bergegas terbang naik, dan bergabung dengan binatang bersayap.
Sayang, kehadiran kelelawar kali ini tidak mendapat sambutan baik.
“Kau bukan teman kami.
“Tadi kau meningalkan kami, dan bergabung dengan binatang tak bersayap.
“Kau penghianat, tidak konsisten, dan hanya ingin menang. Celoteh sang burung.
“keluar kau dari barisan ini,”
Tandas seekor burung lagi, sambil mengusir sang ke kelelawar keluar dari barisan binatang bersayap.
Sang ke lelawar-pun tak bisa berbuat banyak. Ia harus menerima kenyataan itu. Ia harus meninggalkan barisan itu, karena tidak konsisten dengan sikapnya.
Diusir dari kumpulan binatang bersayap, sang kelelawar lalu bergegas turun bersama dengan binatang tak bersayap yang berada di darat. Maksudnya, ia ingin bergabung lagi dengan para binatang tak bersayap, dan mengusahakan kemenangan.
Sayangnya, binatang tidak bersayap juga tak menerimanya lai.
“Kau munafik. Tidak punya pendirian,
“Ucapanmu tak bisa dipercaya,
“Keluar kau dari barisan kami,”
Tandas seekor kucing, salah satu binatang tak bersayap.
Akhirnya, sang kelelawar tidak mendapatkan kepercayaan lagi. Tidak ada lagi pihak yang mau memerimanya. Ia diusir dari kelompok-kelompok binatang. Ia sangat malu, karena setelah perombaan itu, sikap kelelawar menjadi cemo’ohan sesama binatang, di gunung Tompotika.
Konon, itulah alasan kenapa kelelawar tidak berani keluar pada siang hari. Ia tidak memiliki teman, karena sudah dianggap penghianat.
Akhirnya, kelelawar tinggal dan bersembunyi di lubang-lubang batu sendirian, di pucuk dedaunan mudah tanoa ditemani binatang lain.
Kelelawar hanya berani keluar pada malam hari saja. Hal itu dilakukan, agar tidak ketahuan bintang lain.
Memang, hukuman itu pantas diberikan kepada sang kelelawar.
Politik yang dilakukan kelelawar, untuk menggapai kememangan sangat buruk dan jahat.
Semoga saja, para politisi kita tidak ada yang menggunakan “politik kelelawar” untuk mencapai tujuan.
Sebab, dalam kenyataan dunia politik di negeri ini, banyak sekali perilaku yang sama seperti sikap sang kelelawar. Tak punya pendirian, memuka dua, dan egois.
Mereka hanya mau berteman bila ada kepentingan dan menguntungkan dirinya. Namu pada sisi lain, mereka tidak segan-segan meninggalkan temannya, atau bahkan mereka tega menghancurkan dan menghabisi temannya sendiri, yang penting cara itu bisa meloloskan kepentingan atau keuntungan yang diinginkan.
Dan itulah yang disebut politik kelelawar.