23 Januari 2008

Kisah Orang-Orang Yang Direcall Parpol Dari Anggota DPRD

Melawan Ketimpangan, Dianggap Melawan Partai


Masih segar dalam benak rakyat Kabupaten Banggai, proses recall terhadap beberapa anggota DPRD oleh Partai Politik yang mengirimnya ke parlemen. Moh. Nurwahid, SE, adalah salah satu mantan anggota DPRD periode 2004-2009 yang recall Partai Golkar.


Catatan : Gafar Tokalang


Moh. Nurwahid,SE terlihat sibuk dibalik meja kerjanya, di Jln. Sutarjo, Kelurahan Luwuk, Kabupaten Banggai. Pria yang lahir 16 Agustus 1973 itu, saat ini menghabiskan hari-harinya bersama sebuah majalah berita mingguan PANTAU, yang terbit di Luwuk, Kabupaten Banggai. Sejak awal, Nurwahid memang aktivis LSM dan Pers. Namun, menjelang Pemilu 2004, ia tertarik dengan ajakan beberapa rekannya untuk bergabung dalam dunia politik praktis lewat partai politik. Maka, bergabunglah ia bersama Partai Golkar. Partai yang cukup besar di daerah ini dan kini menjadi mayoritas di parlemen teluk lalong (sebutan untuk DPRD Banggai). Sosok Nurwahid, tidak asing lagi bagi masyarakat Kabupaten Banggai. Ia adalah mantan anggota DPRD Kabupaten Banggai yang direcall Partai Golkar dari keanggotan di parlemen. Nurwahid dilantik sebagai anggota DPRD hasil Pemilu 2004 pada Agustus 2004, hingga akhirnya ia diberhentikan pada Juni 2006 lalu. Praktis 1 tahun 6 bulan, Nurwahid menjadi anggota DPRD Banggai. Banyak spekulasi yang berkembang, menyusul pemecatan yang dilakukan partai kepadanya. Beredar kabar, Nurwahid terlalu keras, dan melawan partai sehingga sikap itu mengorbankan dirinya sendiri.Namun, saat ditanya soal kisah-kisahnya menjadi anggota DPRD hingga persoalan pemecatan yang menimpa dirinya, Nurwahid menolak jika disebut terlalu keras. Sebab katanya, dirinya bukan bersikap keras, melainkan menjalankan fungsi sebagai seorang wakil rakyat. “Anggota DPRD itukan duplikat rakyat. Jadi, apa yang diinginkan rakyat, maka itu yang mestinya kita lakukan,” tuturnya, Rabu (23/1) kemarin.Terus, bagaimana pandangannya tentang pemecatan dirinya dari anggota DPRD? “bagi saya, ini adalah rotasi kehidupan dalam dunia politik,” tutur pria yang belakangan ini giat dalam forum pembentukan Kabupaten Batui-Toili. Ia menyadari benar, bahwa bangunan politik demokrasi di Indonesia, masih menempatkan Partai Politik (Parpol) sebagai lembaga yang memiliki kewenangan dalam melakukan recalling terhadap seorang wakil rakyat di parlemen.Bila selama ini ada kesan kritik keras yang sering dilontarkannya saat di DPRD, maka menurutnya itu bukan keras hati, melainkan melaksanakan fungsi duplikat dari rakyat. Nur mengakui, ada beberapa sikap tegas yang dilakukannya kala masih duduk di DPRD. Sebut saja ketika ia dan kawan-kawannya konsen meneriaki pemberantasan korupsi dan penegakan hukum. Menurutnya, karena pemberantasan korupsi dan penegakan hukum telah menjadi konsensus bersama rakyat Indonesia secara nasional, maka sejatinya hal itu juga harus dilakukan ditingkat daerah, apalagi lembaga-lembaga seperti DPRD.Tak ayal, kritik keras juga dilontarkan kepada institusi DPRD, termasuk Ketua DPRD yang terlilit kasus dugaan korupsi. Meskipun, pimpinan DPRD itu adalah nota bene pimpinannya sendiri dalam Partai. “Kenapa orang lain kita teriaki, tapi pimpinan kita sendiri tidak bisa,” tuturnya dengan nada tanya.Nur mengaku, tidak ada dalam pikirannya bahwa sikap itu akan membahayakan dirinya. Sebab kata dia, ia bukan melawan partai, melainkan melawan ketimpangan. “Saya bukan melawan partai, tapi saya melawan hal-hal yang bagi saya timpang,” tuturnya.Makanya, Nurwahid menyarankan kepada teman-teman di DPRD, untuk tidak perlu takut mengenai adanya konsekwensi atau pemecatan. “Selagi berada pada rel kebenaran, maka lakukanlah,” katanya lagi.Hal itu masih lebih baik, dari pada dinilai menghianati rakyat. Menurutnya, serahkan sepenuhnya kepada rakyat yang akan menilai, apakah sikap yang diambil itu salah, atau partai yang keliru. “Saya kira rakyat sudah cukup cerdas,” tuturnya.Selain mendapat sanksi partai, menjadi anggota DPRD dan sering bersikap keras, ternyata tidaklah mudah. Sebab, berbagai aksi teror juga kerap dihadapi. Nurwahid mengakui tentang hal itu. “Kalau teror ya, rumah dilempari dan lain-lainnya. Itu sering dialami waktu lalu masih di DPRD,” tuturnya.Kini, mendirikan sebuah majalah, seakan memberikan kepuasan baginya. Sikap kritis masih bisa sesekali dituangkan dalam karya-karya tulis. Ada semacam cita-cita yang tidak sempat terwujud saat masih duduk di DPRD hingga akhirnya keburu dipecat. Kata Nur, ia dan beberapa rekan-rekannya ingin mewujudkan konsensus nasional tentang pendidikan dan kesehatan. “Kami ingin mendorong itu dalam bentuk pendidikan dan kesehatan gratis. Itu yang belum sempat dilakukan, dan suda keburu dipecat,” tuturnya sambil tertawa.Apakah saat ini punya keinginan untuk kembali ke Lalong, atau ke partai politik, agar bisa memperjuangkan keinginan itu kembali? Nur mengaku sampai saat ini belum ada keputusan yang diambil. “Banyak teman-teman mengajak gabung, tapi saya lebih memilih konsen di perjuangan Batui-Toili,” tuturnya mengakhiri perbincangan.(*)

21 Januari 2008

Global Warming

























































































Hutan rusak, pertanian kekeirngan.
Dan kita, rakyat, akan kelaparan…
Saat ini mungkin belum
Tapi yakin, suatau saat nanti…

Marginal Di Tengah Pesatnya Pembangunan

Mengunjungi Desa Benteng di Kecamatan Toili

Kecamatan Toli, merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Banggai yang laju pertumbuhan pembangunannya terbilang cepat. Namun, tidak semua desa-desa di wilayah itu tersentuh pembangunan. Seperti Desa Benteng, sebuah desa terpencil yang marginal di tengah pesatnya pembangunan di kawasan itu.

Catatan : Gafar Tokalang

Desa Beteng merupakan salah satu desa di Kecamatan Toili. Desa ini baru berusia 1 tahun, setelah dimekarkan dari Desa Bumiharjo pada 23 Desember 2006 lalu. Desa Benteng bisa dikunjungi dengan menempuh jalan sepanjang 5 kilometer dari ruas jalan utama Luwuk-Toili. Namun, tidak mudah untuk mendatangi desa ini. Sebab, jalan sepanjang 5 kilometer itu tidaklah mulus, seperti yang ada di pusat Kecamatan Toili. Jalannya penuh lubang. Karena tidak diaspal, maka pada musim hujan seperti saat ini, disepanjang jalan ada kubangan air dan penuh lumpur.Desa Benteng terbilang marginal dari hingar bingar kemajuan dan pembangunan di Kecamatan Toili. Di desa ini tidak ada bangunan mewah. Rumah-rumah penduduk sebagian besar dibuat semi permanen, yang dibangun dengan bahan papan dan berlantai tanah. Sebagian lainnya dibangun dengan dinding berbahan anyaman bambu dan beratap daun rumbia. Hanya ada beberapa buah saja bangunan permanent, termasuk sebuah sekolah dasar yang sedang direhab di desa ini. Begitu juga dengan kantor kepala desa yang baru dibangun melalui dana proyek P2WDT. Di desa ini juga tidak ditemukan sarana air bersih. Menurut warga, mereka menggunakan air sumur untuk kebutuhan makan dan minum serta mencuci pakaian. Tidak itu saja, Desa Benteng juga belum menikmati aliran listrik. Jadi, di desa ini sangat sepi. Pada malam hari, suasana terasa sesak. Pandangan mata begitu sempit. Dikiri kanan hanya ada kegelapan dan suara jengkrik. Dari kejauhan terlihat lampu botol di rumah-rumah penduduk. Tidak ada pula suara dentuman musik yang terdengar, seperti halnya di desa-desa yang ada di sepanjang jalan di pusat kecamatan.“Benar-benar marginal ditengah kemajuan pembangunan di Toili,” gumamku dalam hati. Bila sore hari, anak-anak desa keluar bermain dan bekejar-kejaran di jalan. Diantara mereka ada yang tidak menggunakan baju sehingga terlihat telanjang dada. Adapula anak yang tidak menggunakan celana. Meski begitu, ada potensi kreatifitas yang dimiliki anak-anak di desa ini. Yakni, soal kemampuan meracik permainan. Mereka membuat mobil-mobilan dari bahan pelepah pisang dan buah jarak sebagai bolanya. Hasilnya mirip mobil-mobilan yang diperjual belikan di pasar dengan harga Rp10.000 hingga Rp15.000.Ibu-ibu dari anak-anak itu terlihat santai-santai saja saat anak-anaknya bermain di jalan. Wajar saja bila orang para orang tua tidak terlalu hawatir akan anak-anaknya yang bermain dan bekejar-kejaran di jalan. Sebab, tidak ada pula yang ditakuti. Karena, tidak ada kendaraan yang lewat di desa ini. Hanya sekali-sekali truk dari sebuah perusahaan perekebunan HGU terkemuka di Toili yang melewati jalan itu. Sebagaimana namanya, Desa Benteng memiliki latar belakang sejarah. Menurut Kepala Desa setempat, Tasman Suludani, nama desa itu diambil dari sejarah masa lalu yang terus dituturkan orang tua kepada anak-anak dari generasi kegenerasi. Desa itu berada di kawasan pegunungan yang oleh warga terdahulu dijadikan tempat persembunyian, atau perlawanan terakhir saat perang melawan musuh. “Warga disini menyebutnya tempat itu dengan nama Benteng,” tutur Tasman, saat ditemui wartawan Luwuk Post di kedimannya, Rabu (03/01) kemarin.Tasman merupakan kepala desa pertama di desa itu. Ia menjabat sebagai pelaksana tugas kepala desa, untuk mengantarkannya pada pemilihan kepala desa definitip. Ia tinggal bersama istrinya, Isna (25) tahun, dan seorang anaknya.Tasman menuturkan, dahulu, orang-orang yang mendiami tempat itu sering didatangi musuh, seperti pasukan Tobelo. Untuk menghindari serangan musuh atau sekedar bertahan dari serangan, warga bersembunyi di sebuah gunung yang ada di desa itu. “Kabarnya, tempat itu aman untuk pertahanan dan juga untuk persembunyian,” tutur Tasman.Pada saat pembentukan desa, kata Tasman, ada tiga nama yang sempat mengemuka. Yakni Desa Tamolosong, yang dimabil dari nama sebuah sungai di desa itu. Ada pula yang mengusulkan nama Desa Gandela. Gandela merupakan sebutan warga setempat tentang jendela, yang ada di gunung “benteng”. Kata Tasman, di tempat persembunyian itu, ada sebuah lubang menyerupai jendela, yang dijadikan penduduk yang sedang dalam persembunyian kala itu, untuk mengintip kedatangan musuh. “Meski sempat berkembang tiga nama, akhirnya warga bersepakat untuk memberi nama desa dengan sebutan Desa Benteng,” tutur Tasman.Desa ini sempat menjadi Trans Suaka Mandiri (TSM) pada tahun 1994. Saat itu kawasan ini dikenal dengan sebutan kilometer 9. Dijelaskan, pada saat itu terdapat 58 KK yang terdiri dari masyarakat Banggai (Bangkep), Saluan dan suku Ta’ yang berasal dari Morowali. Hingga saat ini, Desa Benteng juga masih didiami oleh masyarakat dari tiga komunitas itu. Namun, jumlah penduduknya sudah bertambah. Kata Tasman, saat ini jumlah penduduk Desa Benteng sudah 136 KK. Dijelaskan, sebagian besar warga setempat bermata pencaharian sebagai buruh tani. Mereka bekerja di kebun-kebun milik perusahan sawit, atau sekedar mengerjakan lahan perkebunan milik orang lain. Pendek kata, akses ekonomi di desa ini belum terbuka. Warga setempat masih belum menikmati hasil-hasil pembangunan. Berbagai sarana dan prasarana publik, tidak ditemukan di desa ini. Sebab, di Desa Benteng tidak ada angkutan kota yang masuk. Bila ada keperluan di kecamatan, warga menggunakan jasa ojek, yang jumlahnya tidak banyak di desa itu. Mereka membayar Rp10 ribu untu sekali jalan. “Kondisi jalan yang rusak, yang membuat angkutan tidak datang di desa ini,” tutur Tasman, sambil berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian bagi desanya.

18 Januari 2008

TRADISI YANG HILANG

(Refleksi Peringatan HUT Kecamatan Masama ke 4)

Oleh : Gafar Tokalang
SUASANA di lapangan sepak bola Desa Purwoagung Kecamatan Masama, sejak sepakan terakhir, cukup ramai. Maklum, rangkaian kegiatan terkait dengan perakayaan hari jadi Kecamatan Masama sedang di helat. Panitia pelaksana menggelar berbagai event untuk merayakan hari ulang tahun kecamatan yang ke empat.Pada saat pembukaan rangkaian kegiatan itu, Camat Masama, Hasrin Karim, SH mengatakan, yang dirayakan saat itu adalah hari jadi kecamatan, bukan hari jadi Masama, (yang oleh warga setempat diyakini telah lahir sejak beberapa ribu tahun silam). “Kita bukan merayakan hari jadi Masama, namun kita merakayan hari jadi kecamatan,” begitu kata Hasrin saat itu.Penegasan pimpinan kecamatan dalam struktur pemerintahan itu patut diberikan apresiasi yang baik. Sebab, dalam banyak hal, hari jadi atau yang akrab dengan sebutan Hari Ulang Tahun, merupakan sesuau yang sangat prinsip dan sakral. Pada saat itu, banyak hal yang dilakukan. Minsalnya, merefleksikan apa yang telah dilakukan selama ini, dan apa yang akan dilakukan dimasa yang akan datang.Beberapa kali saya sempat mendatangi lapangan sepak bola Purwoagung itu. Disela-sela keramaian berbagai kegiatan itulah, saya terdorong untuk membuat beberapa catatan-catatan kecil tentang banyak hal yang saya saksikan, yang tentunya tidak dapat saya uraikan secara tuntas dalam tulisan kali ini.Salah satu hal yang mengundang perhatian saya — dan tentu juga kawan-kawan lain —, adalah soal spirit kebersamaan ditenga ragam budaya yang tumbuh dan berkembang. Lihat saja, tarian khas jawa yang ditampilkan saat pembukaan acara itu digelar. Sekedar diketahui, mayoritas penduduk Desa Purwoagung adalah omunitas Jawa, yang bermukim ditempat itu melalui program transmigrasi yang dilakukan pemerintah sejak lama. Pada HUT Kecamatan Masama ke 4 ini, desa itu menjadi tuan rumah pelaksanaan hajatan tersebut. Saat itu, semua mata pengunjung terpesona memandang anak-anak kecil yang memainkan tarian tersebut. Masyarakat Masama, dengan kultur budaya Andio yang sejak beratus-ratus tahun lahir, menerima kedatangan kebudayaan baru di wilayah itu tanpa ada resisensi culture yang tercipta. Bagi saya, ini adalah embrio kesadaran atas kondisi social masyarakat heterogen, yang perlu terus menerus diciptakan. Spriti kesadaran koletif masyarakat Masama itu, seakan memberikan gambaran atas kondisi sosial yang ada di Kabupaten Banggai secara keseluruhan. Sebab, sosiokultur mayarakat yang heterogen sesungguhnya juga merupakan kondisi masyarakat Kabupaten Banggai. Sayapun berharap, rasa kebersamaan ditengah ragam perbedaan-perbeadaan itu, hendaknya spirit bersama masyarakat kabupaten banggai.Kembali pada persoalan HUT Kecamatan Masama. Ada satu hal yang bagi saya perlu koreksi dan introspeksi. Baik itu untuk pemerintah kecamatan Masama, tokoh masyarakat, lebih-labih kalangan adat dan budayawan. Sebuah kegiatan yang digelar panitia pada HUT Kecamatan Masama itu, seperti menunjukan kepada semua mata yang memandang, tentang sebuah fakta kehancuran budaya generasi Masama di Mamasa yang akan datang.Perkembangan tehnologi informasi yang terus berkebang belakangan ini, di sadari atau tidak, telah ikut membentuk karakter masyarakat Masama yang cenderung mengaburkan identitas kultural dan menghancurkan masa depan generasi. Seperti yang terlihat dalam lomba bernyanyi yang digelar panitia pada malam Minggu (13/1) lalu. Saat itu, anak-anak pada usia kelas 3- 4 Sekolah Dasar (SD), ditampilkan diatas panggung dan menyanyikan lagu dangdut, dengan ekspresi goyangan ala Inul Daratista yang (maaf) tergolong erotis. Hal itu kemudian menjadi tontonan yang menghibur ratusan mata pengunjung yang datang di lapangan malam itu. Bagi saya, ini adalah bentuk eksploitasi terhadap anak dan generasi Masama. Disengaja atau tidak, acara itu, saya pandang sebagai agenda penghancuran generasi Masama yang akan datang, yang entah idenya datang dari mana. Panitia pelaksana medesain acara itu mirip seperti acara-acara ditelevisi. Sebut saja acara “Mama Mia” di INDOSIAR, KDI di TPI, Indonsian Idol di RCTI, dan sederet acara-acara TV lainnya. Dengan kemampuan berbahasa (baca : logat Jakarta) yang sangat terbatas, para komentator-komentator kemudian dengan lata memberikan komentar atas lagu, ekspresi dan goyangan yang ditampilkan setiap peserta. Pokoknya, meski beda jauh, namun hampir sama dengan acara di TV. Saya baru menyadari betapa kehawatiran banyak pakar di Indonesia, tentang dampak tayangan televisi teradap pembentukan karakter individu begitu besar. Sebab, di Masama, acara itu menunjukan bahwa betapa tayangan televisi tidak saja berhasil membentuk karakter indivindu, namun juga telah berhasil membentuk “kultur baru” dalam sebuah komunitas.Padahal, kemajuan tehnologi dan informasi hendaknya dipandang dan direspon dengan baik dengan mengambil sisi-sisi positif. Tekanan atas kultur masyarakat Masama, yang sejak lama mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dan etika pergaulan, berlahan-lahan mulai kabur dan tidak sanggup membentudung laju perkembangan era globalisasi. Saya yakin, bahwa kita semua pasti sadar dan menyadari, bahwa goyang dangdut yang ditayangkan di acara TV itu, sangat jauh dari konteks kultur Budaya Masama (Andio), atau bahkan budaya Banggai, Balantak, atau Saluan. Banyak hal yang menjadi identitas masyarakat Masama, namun tidak menjadi agenda besar masyarakatnya. Banyak tradisi cultural yang mulai ditinggalkan. Dan saya, ingin membahasakan semua itu sebagai “Tradisi Yang Hilang”, yang menstinya menjadi agenda besar bagi semua pihak.HUT Kecamatan Masama ke 4 kali ini, hendaknya menjadi agena pencerahan dan pencerdasan. Banyak hal yang masih membutuhkan pemikiran banyak pihak. Agena pencerdasan masyarakat melalui program di sektor pendidikan yang dijadikan Bupati Banggai Ma’mun Amir sebagai salah satu program prioritas, hendaknya dapat ditafsirkan pemerintah di tingkat kecamatan. Mengapa momentum HUT Kecamatan Masama ke 4 ini tidak dijadikan momentum untuk menentukan masadepan generasi yang cerdas, generasi yang trampil dan mandiri, serta generasi yang bergerak di atas bingkai kultur dan moralitas yang bermartabat.Kalau agenda penghancuran generasi tidak saja menjadi agenda kapitalisme melalui tayangan televisi, melainkan telah menjadi agenda bersama masyarakat lokal, maka siapa lagi yang harus bertanggung jawab terhadap pembentukan generasi yang akan datang?. Waullahulam bisawab

RAMADHAN

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."[Al-Baqarah:183]

"Selamat Menunaikan Ibadah Puasa, Semoga amal ibadah kita diterima disisi Allah SWT. Amiiieenn